Sering Minta Traktiran? Ini Dia Hukumnya dalam Islam!




Seperti sudah menjadi budaya bagi orang kebanyakan, apalagi di negara kita seperti ini, ulang tahun menjadi momen yang cukup menyenangkan untuk dirayakan bukan hanya bagi yang bertambah umur pada hari itu saja, akan tetapi juga yang merayakan seperti teman atau sanak saudara. Salah satu hal yang pasti diingat ketika ada seseorang yang berulang tahun pastilah traktir.
Traktir? Semua orang pasti akan menyukai dan merasa senang apabila mendapat traktiran dari orang lain. Terlebih yang mentraktir tersebut adalah teman terdekat sendiri. Makanan yang kita makan akan terasa jauh lebih nikmat apabila kita sedang ditraktir, betul?


Didalam kehidupan sehari-hari mungkin kita seringkali bercanda dan bergurau kepada teman kita untuk meminta traktiran atas kenikmatan yang telah ia dapatkan. Disisi lain mungkin ada diantara kita yang sudah menjadi budaya untuk meminta traktiran kepada teman-teman kita.

Perlu digaris bawahi bahwasanya kebiasaan meminta-minta traktiran tersebut apalagi dengan cara memaksa. Terdapat beberapa hadits yang melarang kita untuk meminta-minta kepada sesama manusia, diantaranya:

Dari Hubsyi bin Junadah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda:
Barangsiapa meminta-minta padahal dirinya tidaklah fakir, maka ia seakan-akan memakan bara api,” (HR. Ahmad).

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu‘anhuma, ia berkata bahwa Rasul shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda:

Jika seseorang meminta-minta (mengemis) pada manusia, ia akan datang pada hari kiamat tanpa memiliki sekerat daging di wajahnya,” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari Samuroh bin Jundub, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Meminta-minta adalah seperti seseorang mencakar wajahnya sendiri kecuali jika ia meminta-minta pada penguasa atau pada perkara yang benar-benar ia butuh.” (HR. An-Nasa’i, Tirmidzi dan Ahmad).



Dalam islam tegas mengatakan bahwasannya, tangan diatas lebih baik daripada tangan dibawah. Namun disisi lain, janganlah karena harta yang banyak tersebut menjadikan kita sebagai pribadi yang sombong, sehingga dengan semena-mena menghardik kaum-kaum fakir miskin.

Membantu dan menolong orang yang membutuhkan bahkan non-fakir sekalipun merupakan sebuah kebaikan. Fakir adalah seseorangyang tidak memiliki biaya untuk menutupi kebutuhan hidupnya. Terlepas dari apakah mereka memohon bantuan dari orang lain atau tidak memohon, namun pengemis adalah seseorang yang meminta pertolongan kepada orang lain terlepas dari apakah mereka memiliki biaya dan mampu menutupi biaya hidupnya atau tidak.


Oleh karena itu hanya tiga orang yang diperkenankan boleh meminta-minta sebagaimana disebutkan dalam hadits Qobishoh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Wahai Qobishoh, sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal kecuali untuk tiga orang:
seseorang yang menanggung utang orang lain, ia boleh meminta-minta sampai ia melunasinya, seseorang yang ditimpa musibah yang menghabiskan hartanya, ia boleh meminta-minta sampai ia mendapatkan sandaran hidup, dan seseorang yang ditimpa kesengsaraan hidup.
Sehingga ada tiga orang yang berakal dari kaumnya berkata, ‘Si fulan benar-benar telah tertimpa kesengsaraan’, maka boleh baginya meminta-minta sampai mendapatkan sandaran hidup. Meminta-minta selain ketiga hal itu, wahai Qobishoh adalah haram dan orang yang memakannya berarti memakan harta yang haram.” (HR. Muslim no. 1044).
Lantas, apakah meminta traktiran itu dikategorikan sebagai pengemis?

Pada dasarnya, Seseorang yang mendapat kenikmatan dari Allah sah-sah saja apabila ingin membagikan kenikmatan tersebut kepada teman-temannya. Dengan syarat yang meminta traktir tidak boleh sampai menghinakan dirinya, termasuk dalam konteks bercanda.

Selain itu jangan sampai kita meminta traktir dengan cara mendesak-desak sehingga teman kita yang diminta traktiran tersebut merasa terusik dan tidak nyaman atas desakan yang kita lakukan kepada dirinya, selain itu jangan sampai kita menyakiti seseorang yang hendak kita mintai traktiran, baik menyakiti secara lisan terlebih menyakiti secara fisik.

Hal ini senada dengan pendapat dari Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir yang menyebutkan bahwa yang dimaksudkan mengemis itu apabila telah terpenuhinya 3 syarat, yaitu:

1. Meminta dengan menghinakan diri.

2. Meminta dengan terus mendesak.

3. Menyakiti orang yang diminta. 

Modus Di balik Postingan yang Menyuruh komentar Amin, ya atau ng-like di Facebook

Teman facebooker pasti pernah mendapati postingan bergambar yang menyuruh kita untuk berkomentar amin, ya atau nge-like postingan tersebut. Gambar atau foto yang ditampilkan pada postingan tersebut biasanya bertema kesengsaraan seorang manusia,tempat-tempat yang diinginkan seseorang,dan ada juga tentang fenomena aneh yang bikin kita penasaran.

Nah, pernah gak teman facebooker berfikir sebenarnya apa maksud dan tujuan postingan itu..? Sebelum menjawab pertanyaan itu perhatikanlah gambar di bawah ini :



Dari penjelasan gambar disamping sangat jelas bukan kalau tujuannya adalah uang? Yap, demi uang mereka melakukan sesuatu yang tidak pantas. Mereka memanfaatkan keawaman pengguna facebook untuk mendapatkan penghasilan, tak peduli bagaimana caranya yang mereka pikirkan adalah hasilnya.

Bagaimana menghentikan atau paling tidak mengurangi postingan tersebut? Kalau menghentikan postingan dari akun atau halaman yang meresahkan tersebut sepertinya sulit, karena yang mempunyai wewenang untuk menghapus akun atau halaman adalah pihak facebook, dan pihak facebook sendiri sepertinya tidak terlalu peduli. Cara lain ya mencegah pengguna facebook agar tidak klik like atau komen sembarangan, tapi siapakah yang peduli? Entahlah....

Ini ada beberapa contoh postingan :


Jika kita berfikir secara religius, Kata-kata amin tidak harus di lampirkan di komentar postingan tersebut. Karena Allah SWT maha mendengar doa umatnya. Sebagai penutup artikel ini ada sebuah gambar meme yang menyindir postingan tersebut.


Mengapa Jari Tangan Dan Kaki Keriput Ketika Terlalu Lama Terkena Air

Seringkali ketika kita beraktifitas menggunakan air terlalu lama, maka jari-jari tangan atau jari-jari kaki kita menjadi keriput. Mungkin anda bingung mengapa hal tersebut terjadi,untuk mendapatkan jawabannya simak penjelasan dalam artikel berikut ini.












Selama ini, jari tangan dan kaki yang keriput saat melakukan aktifitas menggunakan air dianggap sebagai akibat menyerapnya air ke dalam lapisan epidermis kulit.

Asumsi dari dugaan ini adalah karena bentuk kerutan seolah-olah menunjukkan tarikan dengan lapisan bawah sehingga tidak dapat mengembang dengan sempurna.

Namun, sebuah penilitian di tahun 1035, sekolompok ilmuan menemukan bahwa jari tangan dan kaki yang keriput saat lama terkena terkena air tidak terjadi pada mereka yang mengalami kerusakan saraf.

Jika volume darah yang ada di jaringan lunak jari tangan dan kaki berkurang, maka kulit jari tangan dan jari kaki akan tertarik dan membentuk lipatan-lipatan, inilah yang kita sebut dengan keriput! Jangan khawatir akan hal ini, karena keriput itu tidak permanen dan akan hilang setelah beberapa menit kita keluar dari dalam air atau tangan dan kaki sudah tidak terkena air lagi.

Lebih menarik lagi, perubahan yang merupakan hasil evolusi ini bertujuan untuk membuat kulit kita mudah menempel atau menapak di permukaan yang basah dan licin. Tentu saja tujuannya agar kita mudah memegang sesuatu serta tidak jatuh atau terpleset.

Seperti diliris di brightside.me, pada tahun 2013, sekelompok ilmuwan meneliti soal ini. Ditemukan, dengan jari tangan yang keriput,kita lebih mudah mengambil barang yang basah atau licin. Begitupun dengan berjalan kaki di permukaan basah dan licin.